Buat para fans dan juga pemain sepak bola, sebuah Jersey bola bukan hanya menjadi sebatas seragam dalam sebuah club sepak bola saja, tetapi juga memiliki arti yang sangat penting. Walaupun harga jual jersey bola berbeda dengan harga jual sepatu sepak bola, yang pasti yang diincar fans terlebih dahulu adalah jerseynya walaupun lebih mahal. Nah, dalam tulisan kali ini, kita akan mengenal beberap jersey bola yang melegenda serta melekat ke hati setiap penggemarnya. Berikut, 9 jersey sepak bola yang menjadi legenda:
9. Juventus
Kostum ini dipakai Juventus sebagai peringatan 100 tahun berdirinya La Vecchia Signora. Warna merah jambu (pink) dipakai karena warna itulah yang dipakai saat Juve pertama kali berdiri. Untungnya, saat memasukki abad ke-20, kostum hitam-putih mulai dipakai. Jika tidak, mungkin julukan Juventus kini menjadi Colore Rosa (pink) yang jauh lebih feminim.
8. Kroasia, 1996
Pada penampilan perdananya di turnamen besar, Kroasia langsung menggebrak dunia karena berhasil masuk hingga perempat-final Euro 1996 di Inggris. Bermaterikan beberapa pemain bekas tim juara Piala Dunia Yunior 1987, Kroasia hanya kalah dari Jerman, yang akhirnya menjadi juara, di Old Trafford. Kostum kotak-kotak merah-putih juga menjadi inovasi tersendiri dalam kejuaraan itu.
7. Ajax Amsterdam
Bagian vertikal merah di tengah dan diapit oleh putih di masing-masing sisi menjadi ciri khas tersendiri bagi raksasa Belanda ini. Mungkin hanya perubahan sponsor yang memberikan sentuhan berbeda yang tak signifikan untuk jersey yang unik tetapi sederhana ini.
6. Denmark, 1986
Kostum ini mendatangkan cukup banyak kontroversi, serupa seperti kemunculan tim Skandinavia ini. FIFA sempat ikut campur dalam masalah ini, karena bukan hanya baju yang separuh merah dan putih, tetapi juga celana. Akhirnya, celana pun berubah menjadi putih, tetapi prestasi Denmark di Piala Dunia Meksiko 1986 tetap luar biasa dengan mencatat nilai sempurna di babak grup termasuk dari tim kuat Jerman Barat, tetapi akhirnya dibantai Spanyol di 16 besar.
5. Real Madrid, 1960-an
Kejayaan Real Madrid pada era 1960-an di atas lapangan hijau, bukan hanya memberikan inspirasi dari permainan mereka di lapangan, tetapi juga jersey real madrid yang mereka gunakan. Warna putih polos dan tak dirusak oleh motif ataupun logo dicontoh oleh banyak tim, termasuk Leeds United dan kini LA Galaxy.
4. Jorge Campos, 1990-an
Kiper Meksiko ini menjadi satu-satunya peserta individu yang masuk dalam daftar ini. Kiper eksentrik ini dikenal dengan kepiawaiannya di bawah mistar, dan lebih karena kostumnya yang unik. Campos dikenal sering merancang sendiri kostum yang dipakai. Meskipun terkadang aneh dan tak masuk akal sehat, tetapi keberaniannya untuk tampil beda patut diacungi jempol.
3. Glasgow Celtic, 1967
Selain sukses meraih gelar Liga Champions, Glasgow Celtic juga berhasil mencuri perhatian karena jersey yang digunakan. Celtic pernah menggunakan kostum tanpa nomor punggung! Nomor hanya terdapat di celana, hingga akhirnya UEFA meminta Celtic untuk memasang nomor di punggung mereka.
2. Belanda (Johan Cruyff), 1974
Masalah sponsor, serupa seperti yang terjadi terhadap pebasket Michael Jordan pada Olimpiade Barcelona 1992, ternyata juga terjadi di dunia sepakbola. Johan Cruyff menolak memakai tiga garis yang menghiasi kostum tim Oranye pada Piala Dunia 1974 karena ia memiliki kontrak pribadi dengan Puma. Sebagai solusi, akhirnya hanya ada dua garis pada kostum Cruyff. Selain itu, Cruyff juga ngotot mengenakan nomor punggung 14, meskipun saat itu Belanda mengatur nomor punggung berdasarkan abjad pemain.
1. Prancis, 1984 dan 1998
Kostum Les Bleus pada Piala Eropa 1984 punya makna tersendiri bagi rakyat Prancis. Saat itu, Michel Platini berhasil membawa Prancis juara Euro 1984. Saat menggelar Piala Dunia 1998, Prancis memutuskan mengenakan kostum serupa seperti yang digunakan Platini pada 1984 dengan harapan Zinedine Zidane dkk. berhasil menjadi juara. Harapan itu terkabul, dan Zidane mengikuti jejak Platini mengangkat piala bergengsi bagi Prancis dengan kostum serupa.
Senin, 16 Desember 2013
Rabu, 11 Desember 2013
Jersey dan Maknanya Kini
Jersey dan Maknanya Kini - Bagi penggemar sepakbola bila mendengar kata “jersey” mungkin sudah tak terasa asing di telinga, karena jersey merupakan suatu ciri dan kebangaan serta bukti bahwa penggila bola tersebut “memuja” dan mendukung klub kesayangannya. Tulisan ini sendiri terinspirasi dari penglihatan saya serta obrolan di antara kawan-kawan saya tentang “Wabah” jersey sebagai “mazhab” baru berpakaian (khususnya di kalangan kaum remaja). Ini terkait dengan bagaimana sepakbola di negeri kita seakan sudah menjadi olahraga ”primer” (walaupun timnas dan organisasi sepakbola kita masih stagnan), namun peran media dalam menyiarkan pertandingan dari liga kelas dunia menjadi “berkah” bagi fans sepakbola yang menyaksikan tayangan tersebut.
Seperti yang dijalskan sekilas pada paraghraph di atas jika “Jersey” biasa diartikan sebagai seragam/ kostum dari sebuah klub dan tim nasional sepakbola. Dalam sepakbola jersey merupakan salah satu syarat wajib dalam olahraga ini sebagai pertanda sebuah klub. Jersey sendiri biasanya dikaitkan dengan sejarah atau filosofi sebuah tim sepakbola, Kita ambil contoh jersey AC Milan yang mempunyai filosofi I Rossoneri (Merah-hitam) . Herbert Kilpin pernah berujar “ Warna Kami akan merah, seperti setan dan Hitam, yang menebar ketakutan pada lawan-lawan kami” secara ringkas bisa diartikan jika warna Merah-Hitam pada jersey AC Milan adalah “Setan yang menakutkan” tentu filosofi bukan berarti AC Milan sebuah klub pemuja “Satanic” (pemuja setan) namun lebih sebagai “identitas” untuk menjatuhkan mental lawan yang menghadapi mereka.Dari ringkasan diatas bisa kita lihat bahwa warna jersey sebenarnya amat terkait dengan kesan (image) yang ingin yang di tunjukkan oleh suatu tim sepakbola.
Jersey, Sponsor dan “Kemakmuran”
Jersey (khususnya pada major league) kini bukan lagi hanya sekedar seragam yang menutupi tubuh pemain, jersey juga bukan lagi hanya sekedar warna yang digunakan untuk membedakan satu klub sepakbola dengan klub yang lain. Di Era ini jersey sudah menjadi symbol kemakmuran sebuah klub/Timnas juga pemain yang di kontrak khusus oleh pemasok (Jersey) tersebut.Fenomena tersebut mulai terjadi semenjak decade 1960-an, dimana ekonomi politik sepakbola telah menjalankan modernisasi kilat dalam komodifikasi budaya popular yang lebih luas guna mendapat keuntungan yang lebih besar, yang kemudian melahirkan sebuah “simbiosis mutualisme”(Klub Mendongkrak Sponsor begitu juga sebaliknya) hal kemudian berkembang lagi sehingga sebuah klub dapat mendapat julukkan “Tim Unggulan” dan “Tim Medioker”.ini bisa dilihat salah satunya dari perusahaan apa yang menumpang pada jersey klub tersebut. Contoh rata-rata tim unggulan adalah klub yang mempunyai sponsor yang bersifat global (merk yang mendunia) dan tim medioker adalah klub yang mempunyai sponsor yang bersifat local (kedaerahan).
Paragraph diatas biasanya terjadi karena besarnya nilai kontrak yang diberikan sponsor yang menggunakan jersey, sekedar info pada tahun 1996 M.U. Melakukan kontrak 5 tahun dengan perusahaan UMBRO senilai 10 juta poundsterling, di tahun yang sama jersey Real Madrid melakukan hal yang sama dengan ADIDAS, pada level Timnas, adalah Timnas Brazil yang melakukan perjanjian 10 tahun dengan NIKE dengan nilai 250 juta poundsterling[1], hal tadi adalah contoh dari Komodifikasi Global pada sepakbola yang secara langsung memberikan efek pada “kemajuan” dan keuntungan bagi klub/Timnas tersebut, karena menjadi terkenal dan dikonsumsi dengan basis universal.
Hal sebaliknya terjadi pada Klub yang bersifat “medioker” , merk dan kapasitas sponsor yang tak terlalu besar terkadang menghambat pada kemajuan hal tersebut untuk bisa memperkenalkan klubnya secara universal. Untuk kasus yang satu ini bahkan pernah melihat salah satu iklan klub sepakbola amatir yang bertanding tanpa jersey (alias bertelanjang dada), yang ternyata iklan tersebut di buat guna menarik simpati sponsor untuk membubuhkan merknya pada jersey klub amatir tersebut.
Makna Jersey Kini : Antara Identitas Fans Sepakbola dan Fashion
Sebelum membahas lebih jauh tentang sub judul diatas ada baiknya kita mengenal jenis-jenis jersey. Di Indonesia ada beberapa jenis jersey yang biasanya banyak di gunakan yaitu : Jersey Pabrikkan, KW Lokal, KW Hongkong, KW Thailand, Great Ori, Hingga Original. Definisi jersey tersebut biasanya memang hanya di peruntukkan bagi“major league” (liga utama dunia) seperti Liga Itali, Spanyol, Inggris, dan Jerman, alasannya sudah barang tentu liga-liga tersebut mempunyai banyak penggemar serta basis komunitas yang kuat. Hal inilah yang biasanya membuat tipe-tipe jersey tadi terus ada guna menampung “animo” fans (baik secara individu maupun komunitas) mengingat di dalam komunitas fans tersebut memang terdiri dari kelas social yang beragam. Berbeda dengan fashion sepatu walaupun harga jual sepatu bola lebih mahal dengan harga jual jersey bola.
Jersey sebagai identitas fans bisa dibilang menjadi identitas yang kuat bagi fans agar dikenali baik itu oleh komunitasnya sendiri maupun “komunitas lawan” . gejala semacam ini memang telah terjadi sejak lama. Beberapa Fenomena jelas mengambarkan jika jersey bisa jadi lambang kebangaan, kerusuhan,sentiment, hingga kematian. Kisah kota Glascow di skotlandia adalah salah satu fenomena paling sahih betapa sakralnya sebuah jersey buah dari perseteruan dua klub Glascow celtic dan Glascow Ranger.. bahkan saya juga pernah membaca kisah seorang fans yang di tilang hanya karena fans tersebut merupakan fans Milan yang notabene berlawanan dengan klub kebangaan polisi yang menilangnya (Inter Milan). dari kisah-kisah tersebut bisa dibilang betapa jersey menjadi sebuah barang yang “sakral” bagi seorang fans sepakbola.
Namun seiring kini fenomena jersey sebagai fashion juga ini juga bisa menjadi sebuah pertanda jika kini sepakbola sudah milik “semua kalangan” tanpa memandang kelas social, ras, bahkan gender, seragam/kostum sepakbola kini tak hanya sebagai identitas kalangan terbatas (red: pendukung suatu klub/Timnas tertentu) tetapi juga demi kepentingan “fashion” di kalangan masyarakat. Hal ini menurut saya ditandai dengan munculnya jersey “khusus” wanita, karena tak seperti awal munculnya olahraga sepakbola dan jersey itu sendiri, jersey feminin begitu kuat guna menasbihkan sepakbola sebagai “olahraga untuk semua” . mengapa contohnya perempuan karena bagi saya sendiri perempuan adalah “symbol” dari sebuah fashion walau tidak di pungkiri pada saat sekarang pria pun bisa menjadi “kiblat”, hal ini bisa dilihat dari banyaknya atlit sepakbola yang menjadi Model untuk jersey klubnya. Dengan lahirnya fenomena “Jersey sebagai Fashion” maka jangan heran pula jika kita menemui orang yang memakai jersey di tempat-tempat yang sebenarnya tidak terkait dengan sepakbola (stadion, base camp fans club) tetapi kini jersey juga dapat kita temui di kampus, jalan umum, mall, bahkan klub malam. Kita juga tak perlu heran jika yang pengguna jersey tak terlalu tahu tentang “makna” (filosofi klub, sejarah, bahkan pemain) dari jersey tersebut.
Determinasi Kapitalisme dan Identitas Fans Sepakbola yang Bias
Dari rangkuman tulisan di atas terlihat fenomena jersey yang memakmurkan sepakbola tidak terlepas “tangan gaib” bernama kapitalisme, kita bagaimana sebuah klub sepakbola berusaha mematenkan nama klub nya menjadi sebuah brand universal, dengan “menjual identitas” yang klub itu punya yang salah satunya adalah Jersey. Jersey menjadi sebuah identitas yang amat laku di jual karena posisi jersey sendiri sangat cukup untuk membuktikkan ke khalayak umum jika kita adalah fans dari klub itu sendiri.
Paham kapitalisme yang dianut oleh klub sepakbola memang tidak mungkin bisa dilepaskan, karena seperti yang kita tahu jika di era sepakbola industry kini klub sepakbola memasuki sebuah era kepemilikkan “ Go Public” yang artinya fans bisa di bilang adalah lebih dari ½ nyawa yang di punyai suatu klub sepakbola, karena selain berfungsi sebagai pendukung, fans juga menjadi “controller” ( dalam hal ini adalah pemilik saham) yang artinya para fans ini tidak lagi hanya pendukung suatu klub sepakbola namun juga sebagai pengawas dari kebijakan dan aktifitas klub sepakbola. Seiring dengan fungsi yang “menyatu” dengan klub kesayangannya maka bisa di tebak jika “rasa memiliki” fans terhadap klub kesayangannya semakin bertambah. Dan tentu saja rasa kepemilikkkan yang besar dari para fans inilah yang di jadikan celah oleh klub untuk terus melebarkan basis pendukungnya ke tempat-tempat lain di belahan dunia.
Namun begitu hal ini juga menjadi sebuah di lema tersendiri hal ini karena tidak ada lagi batas identitas yang jelas antara fans sejati dengan pecinta “jersey fashion” , karena dengan desaign, harga dan mudahnya mendapatkan jersey klub idola . namun begitu bagi penulis sendiri kedua hal ini tak perlu di perdebatkan karena sejatinya penulis sendiri juga belum mendapatkan arti sesungguhnya dari identitas fans sejati , jadi jikapun ada fenomena “fashion jersey” penulis rasa semua itu tak masalah toh bagi penulis sendiri sepakbola memang olahraga yang penuh dengan “magic, dan sihir” , sehingga memang tidak perlu membuat sekat antara fans sejati dan “fashion jersey” sebagai pembeda, hal ini seperti sepakbola yang telahir sebagai olahraga untuk semua sehingga tak perlu rasanya membuat sekat untuk sepakbola agar di cintai.
Langganan:
Komentar (Atom)